Kembali ke Cerita Kabola Budaya
Menyusuri Akar Leluhur: Sejarah dan Spiritualitas Suku Kabola
Cerita Legenda
Legenda Beringin Berukir
Di antara kisah kisah yang diwariskan, ada satu peristiwa yang paling dikeramatkan oleh masyarakat Kabola. Dikisahkan bahwa pada suatu masa, di tempat yang dikenal sebagai Mesbah, perut bumi tiba tiba mengeluarkan suara yang menggetarkan. Dari dalam bumi itu, muncullah pohon beringin yang berputar dan berukir, perlahan naik menembus permukaan tanah hingga menerjang hutan rimba yang lebat.
Ketika pohon suci itu telah berdiri kokoh, ia seakan memiliki mata yang mampu memandang ke empat penjuru mata angin, ke timur, barat, utara, dan selatan. Nenek moyang Kabola meyakini bahwa tujuan pohon beringin itu adalah untuk memantau dan menjaga, memastikan tidak ada niat jahat yang datang mengancam tanah Alor dari luar. Pohon itu menjelma menjadi penjaga sejati, sebuah manifestasi dari keselarasan energi antara alam dan manusia. Ketika keadaan dirasa aman, pohon beringin itu kembali masuk ke dalam perut bumi, menyisakan kisah yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Sanggar Eheng Hulu, Penjaga Warisan Leluhur
Dari peristiwa sakral itulah lahir nama Eheng Hulu, yang diambil dari untaian kalimat suci berbahasa asli Kabola, Eheng Hulu Peleng Pee Long, Atang Holo Bini Ana Lolo, Piring Towong O Abana War Mihi. Setiap penggalan kalimat ini menyimpan makna yang dalam dan berlapis, menjadi fondasi spiritual yang menopang identitas seluruh masyarakat Kabola hingga kini.
Eheng Hulu Peleng Pee Long menggambarkan pohon beringin berukir yang sakral dan tulus, tumbuh menjulang di puncak Gunung Buyungta, dilengkapi dengan simbol perahu dan ikat kepala. Perahu adalah pengingat akan perjalanan panjang leluhur Kabola mengarungi lautan hingga tiba di Buyungta, sementara ikat kepala melambangkan kedudukan yang tinggi dan terhormat, mencerminkan masyarakat Kabola yang menyatu dengan adat dan tradisi yang kuat serta bermoral luhur.
Atang Holo Biki Ana Lolo kemudian melukiskan bagaimana dahan dan ranting pohon beringin itu menyebar luas, menaungi dan melindungi seluruh kawasan Gunung Buyungta sebagai rumah besar masyarakat Kabola. Sementara Piring Towong O Abana War Mihi menegaskan bahwa di bawah naungan pohon beringin itulah, seluruh masyarakat Buyungta dapat duduk bersama dan berlindung, hidup dalam satu kesatuan yang dikenal sebagai Abolobang Airmi, sepuluh suku Kabola yang terikat dalam satu jejak spiritual yang sama.
Sanggar Budaya Eheng Hulu yang berdiri di kampung tradisional Monbang menjadi wadah yang menjaga agar nilai nilai ini tidak pudar ditelan zaman, memastikan setiap generasi baru memahami bahwa identitas mereka berakar dari perjalanan suci yang penuh pengorbanan dan keteguhan.
Kategori:tradisi-budaya